Selasa, 20 Juli 2021

strategi pembelajaran

 

STRATEGI PEMBELAJARAN

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J.R. David, 1976). Jadi, dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang perlu kita cermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berati penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi. Strategi pembelajaran merupakan rencana dan cara-cara melaksanakan kegiatan pembelajaran agar prinsip dasar pembelajaran dapat terlaksana dan tujuan pembelajaran bisa dicapai secara efektif (Mukhamad Murdiono,2012:28). Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pmbelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda (Reigeluth, 1983, Degeng, 1989)(dalam Made Wena,2008:5). Kozma (dalam sanjaya 2007)  secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Strategi pembelajaran merupakan cara pengorganisasian isi pelajaran, penyampaian pelajaran dan pengelolaan kegiatan belajar dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang dapat dilakukan guru untuk mendukung terciptanya efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Cropper(1998) mengataan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai (Hamruni, 2009;3). Moedjiono(1993) mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan guru untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsistensi antara aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem pembelajaran, dimana untuk itu guru menggunakan siasat tertentu. Depdiknas(2003) merumuskan strategi pembelajaran sebagai cara pandang dan pola pikir guru dalam mengajar agar pembelajaran menjadi efektif. Artinya , rumusan yang dibuat Depdiknas lebih spesifik dengan tujuan yang jelas, yaitu meningkatkan efektivitas pembelajaran. Rumusan Depdiknas tersebut diperkuat dengan pernyataan selanjutnya bahwa dalam mengembangkan strategi pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan beberapa hal yang memungkinkan terciptanya pembelajaran efektif dan berhasil baik(Darmansyah, 2010:18-19). Menurut Wiranataputra(2001) strategi pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Nunan menafsirkan strategi pembelajaran sebagai proses mental yang digunakan pembelajar untuk mempelajari dan menggunakan bahasa sasaran (Iskandarwassid, Dadang Sunendar,2008:6 & 7). Pendapat Dick dan Carey(1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. (Wina Sanjaya,2006:126). Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pemblajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Hamruni,2009:3). Dick dan Carey(1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur ataupun tahapan kegiatan belajar yang digunakan guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mreka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau pakt program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Abizar(1995) menyatakan bahwa strategi pembelajaran diartikan sebagai pandangan yang bersifat umum serta arah umum dari tindakan untuk menentukan metode yang akan dipakai dengan tujuan utama agar pemerolehan pengetahuan oleh siswa lebih optimal (Darmansyah,2010:18). Mujiono(1992) mengartikan strategi pembelajaran sebagai berikut: kegiatan pengajar untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsistensi antara aspek-aspek dan komponen pembentuk system instruksional, dimana untuk itu pengajar menggunakan siasat tertentu. Karena system instruksional merupakan suatu kegiatan, maka pemikiran dan pengupayaan pengkonsistensian aspek-aspek komponennya tidak hanya sebelum dilaksanakan, tetapi juga pada saat dilaksanakan. Hal ini didasarkan pada pemiiran bahwa suatu rancangan tidak selalu tepat pada saat dilakukan. Dengan demikian, strategi pembelajaran memiliki dua dimensi sekaligus. Pertama, strategi pembelajaran pada dimensi perancangan. Kedua, strategi pembelajaran pad dimensi pelaksanaan. Pengertian strategi pembelajaran yang agak berbeda dengan Mujiono dikemukakan oleh Zaini dan Bahri(2003) menyatakan bahwa strategi pembelajaran mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan pengajar dan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Ada empat strategi dasar dalam pembelajaran yaitu mengidentifikasi apa yang diharapkan, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran, menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan.

Macam – macam Strategi Pembelajaran

1.    1.  Strategi Pembelajaran Penyampaian (Exposition)

Bahan pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. Roy Killen menyebutnya dengan strategi pembelajaran langsung (direct instruction).

2.  2.  Strategi Pembelajaran Penemuan (Discovery)

Bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehingga tugas guru lebih banyak menjadi fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. Karena sifatnya yang demikian strategi ini sering juga dinamakan strategi pembelajaran tidak langsung.

3.    3. Strategi Pembelajaran Individual (Individual)

Strategi belajar individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu siswa yang bersangkutan. Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.

4.     4. Strategi Pembelajaran Kelompok (Groups)

Strategi belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar oleh seorang atau beberapa orang guru. Bentuk belajar kelompok ini bisa dalam pembelajaran kelompok besar atau pembelajaran klasikal, atau bisa juga siswa dalam kelompok-kelompok kecil semacam buzz group. Strategi kelompok tidak memerhatikan kecepatan belajar individual. Setiap individu dianggap sama. Oleh karena itu, belajar dalam kelompok dapat terjadi siswa memiliki kemampuan tinggi akan terhambat oleh siswa yang memiliki kemampuan kurang akan merasa tergusur oleh siswa yang mempunyai kemampuan tinggi.

Strategi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1.      1/ Strategi Pembelajaran Deduktif

Strategi pembelajaran deduktif adalah strategi pembelajaran yang dillakukan dengan mempelajari konsep-konsep terlebih dahulu untuk kemudian dicari kesimpulan dan ilustrasi-ilustrasi, atau bahan pelajaran yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang abstrak, kemudian secara perlahan-lahan, menuju hal yang konkret. Strategi ini disebut juga strategi pembelajaran dari umum ke khusus.

2.     2. Strategi Pembelajaran Induktif

Strategi ini bahan yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang konkret atau contoh-contoh yang kemudian secara perlahan siswa dihadapkan pada materi yang kompleks dan sukar. Strategi ini kerap dinamakan strategi pembelajaran dari khusus ke umum.

Jenis-jenis/klasifikasi strategi pembelajaran yang dikemukakan dalam artikel Saskatchewan Educational(1991)  :

1.       1. Strategi Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktik, pengajaran eksplisit, praktek dan latihan, serta demontrasi.

Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah.

2.       2. Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (Indirect Instruction)

Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang tinggi dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis. Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilator, pendukung, dan sumber personal (resource person). Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa ketika mereka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.

3.       3. Strategi Pembelajaran Interaktif (Interactive Instruction)

Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi di antara peserta didik. Seaman dan Fellenz (1989) mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dalam berpikir. Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokan dan metode-metode interaktif. Di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerja sama siswa secara berpasangan.

4.       4. Strategi Pembelajaran melalui Pengalaman (Eksperiential Learning)

Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada aktivitas.Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah proses belajar, dan bukan hasil belajar. Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.

5.       5. Strategi Pembelajaran Mandiri

Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil.

Variabel Strategi Pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:

1.      1. Strategi Pengorganisasian (Organizational Strategy)

Strategi Pengorganisasian merupakan cara untuk menata isi suatu bidang studi, dan kegiatan ini berhubungan dengan tindakan pemilihan isi / materi penataan isi, pembuatan diagram, format dan sejenisnya.

2.    2.   Strategi Penyampaian (Delivery Strategy)

Strategi Penyampaian adalah cara untuk menyampaikan pembelajaran pada siswa dan/ atau untuk menerima serta merespons masukan dari siswa.

3.    3.   Strategi Pengelolaan (Management Strategy)

Strategi Pengelolaan adalah cara untuk menata interaksi antara siswa dan variabel strategi pembelajaran lainnya (variabel strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian). Strategi pengelolaan pembelajaran berhubungan dengan pemilihan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Strategi pengelolaan pembelajaran berhubungan dengan penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar dan motivasi.

Pemilihan Strategi Pembelajaran

Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara penyampaiannya.Oleh karena itu, sebelum menentukan strategi pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah:

1.       Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan aspek kognitif, afektif, atau psikomotor?

2.       Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkat tinggi atau rendah?

3.       Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademis?

Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran:

1.       Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum, atau teori tertentu?

2.       Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat tertentu atau tidak?

3.       Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi itu?

Pertimbangan dari sudut siswa.

1.       Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa?

2.       Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi siswa?

3.       Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar siswa?

Pertimbangan-pertimbangan lainnya.

1.       Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu strategi saja?

2.       Apakah strategi yang kita tetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan?

3.       Apakah strategi itu memiliki nilai efektivitas dan efisiensi?

Pertanyaan- pertanyaan di atas, merupakan bahan pertimbangan dalam menetapkan strategi yang ingin ditetapkan. Misalnya untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan aspek kognitif, akan memiliki strategi yang berbeda dengan upaya untuk mencapai tujuan afektif atau psikomotor. Demikian juga halnya, untuk mempelajari bahan pelajaran yang bersifat fakta akan berbeda dengan mempelajari bahan pembuktian suatu teori, dan lain sebagainya.

Dalam pemilihan strategi pembelajaran, guru harus mengacu pada kriteria sebagai berikut :

1.       Kesesuaian antara strategi pembelajaran dengan tujuan atau kompetensi.

2.       Kesesuaian strategi pembelajaran dengan jenis pengetahuan yang akan disampaikan

3.       Kesesuaian strategi pembelajaran dengan sasaran (kemampuan awal, karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial, karakteristik yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian)

4.       Biaya

5.       Kemampuan strategi pembelajaran (kelompok atau individu)

6.       Karakteristik strategi pembelajaran (kelemahan maupun kelebihannya)

7.       Waktu

Tujuan pembelajaran

Penetapan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan dalam menyajikan materi pengajaran.Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasaran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Misalnya, seorang guru Olahraga dan Kesehatan (OrKes) menetapkan tujuan pembelajaran agar siswa agar dapat mendemonstrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar.Dalam hal ini, metode yang dapat membantu siswa-siswi mencapai tujuan adalah metode ceramah; guru memberi instruksi, petunjuk, aba-aba, dan dilaksanakan di lapangan. Kemudian metode demonstrasi; siswa-siswi mendemonstrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar.

1.       Aktivitas dan pengetahuan awal siswa

Belajar merupakan aktivitas untuk memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak hanya dimaksudkan pada aktivitas fisik saja, tetapi meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau aktivitas mental juga.

2.       Integritas bidang studi/pokok bahasan

Mengajar merupakan usaha untuk mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor. Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian secara terintegritas. Oleh karena itu, metode yang digunakan lebih berorientasi pada masing-masing ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang terdapat dalam pokok bahasan.

3.       Alokasi waktu dan sarana penunjang

Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran adalah satu jam pelajaran (45 menit). Jadi metode yang akan digunakan harus dirancang sebelumnya, termasuk didalamnya perangkat penunjang pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut dapat digunakan oleh guru secara berulang-ulang, seperti transparan, chart, video pembelajaran, film, dsb.

4.       Jumlah siswa

Metode yang kita gunakan didalam kelas idealnya perlu mempertimbangkan jumlah siswa yang hadir dan rasio guru dan siswa, agar proses belajar mengajar efektif. Ukuran kelas juga menentukan keberhasilan, terutama pengelolaan kelas dan penyampaian materi. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa mutu pengajaran akan tercapai apabila mengurangi besarnya kelas. Sebaliknya pengelola pendidikan mengatakan bahwa kelas yang kecil-kecil cenderung memerlukan biaya pendidikan dan latihan yang tinggi. Kedua pendapat ini bertentangan; manakala kita dihadapkan pada mutu, maka kita membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun apabila pendidikan mempertimbangkan biaya, mutu pendidikan sering terabaikan, apalagi saat ini kondisi masyarakat Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan.

5.       Pengalaman dan kewibawaan pengajar

Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman, pribahasa mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang baik”. Hal ini telah diakui di lembaga pendidikan. Selain berpengalaman, guru juga harus berwibawa. Kewibawaan merupakan syarat mutlak yang bersifat abstrak bagi guru, karena guru harus berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan sosial. Guru harus merupakan sosok tokoh yang disegani, bukan ditakuti oleh anak didiknya.

Dalam pengelolaan pembelajaran, terdapat beberapa prinsip yang harus diketahui,yaitu:

1.       Interaktif

Proses pembelajaran merupakan proses interaksi, baik antara guru dan siswa, siswa dengan siswa , atau antara siswa dengan lingkungannya.

2.       Inspiratif

Proses pembelajaran merupakan proses yang interaktif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Biarkan siswa berbuat dan berpikir sesuai dengan inspirasinya sendiri, sebab pada dasarnya pengetahuan bersifat subjektif yang bisa dimaknai oleh setiap subjek belajar.

3.       Menyenangkan

Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan dengan menata ruangan yang apik dan menarik, serta pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi.

4.       Menantang

Merupakan proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal.

5.       Motivasi

Motivasi merupakan aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Seorang guru harus dapat menunjukan pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa.

Sabtu, 03 Juli 2021

4 Kompetensi Guru

 

4 Kompetensi Guru

Guru adalah pilar pendidikan. Keberhasilan pendidikan di suatu negara sangat dipengaruhi peran strategis para guru. Maka dari itu, seiring berkembangnya zaman, kompetensi guru harus terus ditingkatkan. Guru memiliki beban tugas yang sangat berat, tidak hanya bertanggung jawab kepada para anak didiknya, tapi juga pada negara. Guru bahkan memiliki peran sentral dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pada UU No. 14 Th. 2005 Pasal 8, dituliskan beberapa hal yang wajib dimiliki oleh guru dan juga dosen, yaitu:

Kualifikasi Akademik, minimal lulus jenjang pendidikan Sarjana atau Diploma 4.

·         Kompetensi, yang akan ditekankan lagi pada saat pendidikan profesi guru.

·       Sertifikat Pendidik, diberikan setelah melaksanakan sertifikasi guru dan dinyatakan sudah bisa memenuhi standar profesional.

·         Sehat Secara Jasmani dan Rohani.

·         Memiliki Kemampuan, untuk mendukung terwujudnya Tujuan Pendidikan Nasional.

1.      Kopetensi Pedagogik

Kopetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik,perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasiakan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik.

Berkenan dengan pelaksanaan kurikulum, seorang guru harus mampu mengembangkan kurikulum berdasarkan tingkat satuan pendidikannya masing- masing dan disesuaikan dengan kebutuhan local. Disampingitu, guru harus mampu menetapkan menerapkan teknologi infromasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajarannya yaitu menggunakan berbagai media dan sumbe rbelajar yang relevan dan mampu menarik perhatian siswa sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Setidaknya ada 7 aspek dalam kompetensi Pedagogik yang harus dikuasai, yaitu:

1)      Karakteristik para peserta didik. Dari informasi mengenai karakteristik peserta didik, guru harus bisa menyesuaikan diri untuk membantu pembelajaran pada tiap-tiap peserta didik. Karakteristik yang perlu dilihat meliputi aspek intelektual, emosional, sosial, moral, fisik, dll.

2)      Teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik. Guru harus bisa menerangkan teori pelajaran secara jelas pada peserta didik. Menggunakan pendekatan tertentu dengan menerapkan strategi, teknik atau metode yang kreatif.

3)      Pengembangan kurikulum. Guru harus bisa menyusun silabus dan RPP sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan. Mengembangkan kurikulum mengacu pada relevansi, efisiensi, efektivitas, kontinuitas, integritas, dan fleksibilitas.

4)      Pembelajaran yang mendidik. Guru tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran, namun juga melakukan pendampingan. Materi pelajaran dan sumber materi harus bisa dioptimalkan untuk mencapai tujuan tersebut.

5)      Pengembangan potensi para peserta didik. Setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda-beda. Guru harus mampu menganalisis hal tersebut dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai, supaya setiap peserta didik bisa mengaktualisasikan potensinya.

6)      Cara berkomunikasi. Sebagai guru harus bisa berkomunikasi dengan efektif saat menyampaikan pengajaran. Guru juga harus berkomunikasi dengan santun dan penuh empati pada peserta didik.

7)      Penilaian dan evaluasi belajar. Penilaiannya meliputi hasil dan proses belajar. Dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi terhadap efektivitas pembelajaran juga harus bisa dilakukan.

Kompetensi Pedagogik bisa diperoleh melalui proses belajar masing-masing guru secara terus menerus dan tersistematis, baik sebelum menjadi guru maupun setelah menjadi guru. Guru harus mampu mengoptimalkan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuannya dikelas, dan guru juga harus mampu melakukan kegiatan penilaian terhadap kekiatan pembelajara yang telah dilakukan, sehingga dapat dinyatakan bahwa kriteria kompetensi pedagogik meliputi:

Kompetensi Pedagogik Guru dan Contoh Penerapannya

a.       Penguasaan terhadap karateristik peserta didik dana spekfisik, moral, social, kultural, emosional, dan intelektual.

b.      Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik

c.       Mampu mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang yang diampuh

d.      Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik

e.       Memanfaatkan teknologi infrmasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggara kegiatan pengembangan yang mendidik.

f.       Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

g.       Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik

2.      Kopetensi Kepribadian

Pelaksanaan tugas sebagai guru harus didukung oleh suatu perasaan bangga akan tugas yang di percayakan kepadanya untuk mempersiapkan generasi kualitas masa depanbangsa. Walaupun berat tantangan dan rintangan yang di hadapi dalam pelaksananan tugasnya harus tetap tegar dalam melaksanakan tugas sebagai seorang guru. Kompetensi Kepribadian berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hukum, dll.

Kepribadian positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya supaya memiliki attitude yang baik. Pendidikan adalah proses yang direncanakan agar semua berkembang melalui proses pembelajaran. Guru sebagai pendidik harus dapat memengaruhi kearah proses itu sesuai dengan tata nilai yang di anggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Tata nilai termasuk norma, moral, estetika, dan ilmu pengetahuan, memengaruhi perilaku etik siswa sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat. Penerapan disiplin yang baik dalam proses pendidikan akan menghasilkan sikap mental,watak, dan kepribadian siswa yang kuat.Guru di tuntut harus mampu membelajarkan kepada siswanya tentang kedisiplinan diri, belajar membaca, mencintai buku, menghargai waktu, belajar bagaimana cara belajar, mematuhi aturan/tata tertib dan belajar bagaimana harus berbuat. Semuanya itu akan berhasil apa bila guru juga disipli dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Kompetensi Kepribadian Guru dan Contoh Penerapannya

a.       Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

b.      Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlakmulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

c.       Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil dewas, arif, dan berwibawa.

d.      Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.

e.       Menjujung tinggikode etikprofesi guru.

3.      Kompetensi Sosial

Guru di mata masyarakat dan siswa merupakan panutan yang perlu di contoh dan merupakan suri teladan dalam kehidupannya sehari-hari. Guru perlu memiliki kemampuan sosial dengan masyarakat dalam rangka pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif. Dikatakan demikian, karna dengan dimilikinya kemampuan tersebut , otomatis hubungan sekolah dan masyarakat akan berjalan dengan lancar, sehingga ada keperluan dengan orang tua siswa, para guru tidak akan mendapatkan kesulitan. Dalam kemampuan sosial tersebut, meliputi kemampuan guru dalam berkomunikadsi, bekerja sama, bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Sehingga dapat di simpulkan bahwa kriteria kopetensi sosisl meliputi:

Kompetensi Sosial Guru dan Contoh Penerapannya

a.       Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, danstatus sosial ekonomi.

b.      Berkomunikasi secara efektif, simpatik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.

c.       Beradaptasi di tempat bertugas diseluruh wilayah Republik Indonesiayang memiliki keragaman sosial budaya,

d.      Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lainsecara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

4.      Kompetensi Profesional

Kompetensi professional, yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran. Guru harus selalu meng-update dan menguasai materi pelajaran yang disajikan. Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan. Dalam penyampaian pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola Proses pembelajaran. Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa sebagai suatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, keaktifan siswa harus diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan ekperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar, oleh karena itu guru harus melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan belajar sambil bermain, sesuai konteks materinya. Di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus memerhatikan prinsip- prinsip pembelajaran sebagai ilmu keguruan. Misalnya bagaimana menerapkan prinsip apersepsi, perhatian, kerja kelompok, korelansi, dan prinsip-prinsip lainya. Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat. Diharapkan pula guru dapat menyusun item secara benar, lebih jauh agar tes yang digunakan harus dapat memotivasi siswa belajar. Kompetensi profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek:

Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernak kering dalam mengelola proses pembelajaran. Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa sebagai suatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus.

Dalam melaksanakan proses pembelajaran keaktifan siswa harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat medorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen sehingga menemukan fakta dan konsep yang benar, oleh karena itu guru harus melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan belajar sambil bermain, sesuai dengan konteks materinya.

Di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus memerhatikan prinsip- prinsip didaktik metodeik sebagai ilmu keguruan. Misalnya bagaimana menerapkan prinsip apersepsi, perhatian, kerja kelompok, korelasi, dan prinsip-prinsip lainya.

Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat. Diharapkan pula guru dapat menyusun item secara benar, lebih jauh agar tes yang digunakan harus dapat memotivasi siswa belajar. Kompetensi Guru profesional dan Contoh Penerapannya

Adapun kriteria kompetensi profesional guru adalah sebagai berikut:

a.       Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu

b.      Menguasai standar kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu

c.       Mengembangkan matei pembelajaran yang diampu secara kreatif.

d.      Mengembangkan keprofesional secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif

e.       Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri

Senin, 07 Juni 2021

Kultur sekolah, aktivitas siswa dan Pembelajaran

Kultur Sekolah, Aktivitas Siswa dan Pembelajaran

Kultur sekolah merupakan pola nilai, kepercayaan serta tradisi yang tercipta lewat sejarah sekolah( Deal serta Peterson, 1990). Stolp serta Smith( 1994) melaporkan kalau kultur sekolah merupakan pola arti yang dipancarkan secara historis yang mencakup norma, nilai, kepercayaan, seremonial, ritual, tradisi serta mitos dalam derajat yang bermacam- macam oleh masyarakat sekolah. Kultur sekolah merupakan budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran- pemikiran bersama( shared ideas), asumsi- asumsi( assumptions), nilai- nilai( values), serta kepercayaan( belief) yang bisa membagikan bukti diri( identity) sekolah yang jadi standar sikap yang diharapkan.( Zamroni, 2009). 

Lembaga sekolah selaku pihak internal sepatutnya membangun kultur sekolah bersumber pada pemikiran- pemikiran lembaga yang ditunjang oleh style kepemimpinan kepala sekolah, sikap guru serta siswa dan pegawai dalam membagikan layanan kepada para siswa, orang tua, serta lingkungannya selaku pihak eksternal. Kultur positif sekolah sepatutnya jadi kekuatan utama dalam memusatkan segala masyarakat sekolah mengarah perubahan- perubahan positif. Pada biasanya tiap sekolah sudah mempunyai kulturnya sendiri tetapi sekolah yang sukses merupakan sekolah yang mempunyai kultur positif yang sejalan dengan visi serta misi sekolah. 

Dalam upaya tingkatkan kualitas sekolah dituntut buat terus menerus melaksanakan revisi, pengembangan kualitasnya lewat kenaikan kultur sekolah. Kultur sekolah memegang peranan berarti dalam kenaikan kualitas sebab mempunyai 4 guna, ialah:

Selaku perlengkapan buat membangun bukti diri( jati diri).

Kultur sekolah hendak mendesak masyarakat sekolah buat mempunyai komitmen yang besar.

Kultur sekolah hendak mendesak terjadinya stabilitas serta dinamika sosial yang bermutu. Perihal ini berarti supaya area sekolah jadi kondusif tidak tersendat oleh konflik yang hendak membatasi kenaikan kualitas pembelajaran.

Kultur sekolah hendak membangun keberartian area yang positif untuk masyarakat sekolah.

Dalam membangun kultur, sekolah tidak bisa berdiri sendiri namun membutuhkan kerjasama dengan mitra kerjanya ialah orang tua siswa, komite sekolah serta para pemangku kepentingan yang lain. Sekolah wajib jadi learning organization yang melaksanakan pendidikan buat menggapai apa yang di idamkan, ialah dengan mengajak seluruh masyarakat sekolah meningkatkan  sistem serta pola berpikir yang lebih baik. Disamping itu sekolah wajib butuh melaksanakan penilaian diri supaya buat jadi dasar perencanaan buat membangun kultur yang pas cocok dengan keadaan  nyata. Ke


.


Menetapkan Visi, Misi, Tujuan serta Strategi Sekolah

Selaku lembaga pembelajaran sekolah butuh merumuskan  visi, misi, tujuan serta strategi. Bagi Peraturan Menteri Pembelajaran  Nasional  Nomor. 19 tahun 2007 tentang standar Pengelolaan Pembelajaran oleh Satuan Pembelajaran Dasar serta Menengah, visi adalah cita- cita bersama masyarakat sekolah serta segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang hendak tiba yang sanggup membagikan inspirasi, motivasi serta kekuatan pada masyarakat sekolah serta segenap pihak yang berkepentingan buat  mencapainya. Misi sekolah merupakan seluruh suatu yang wajib dicoba buat mewujudkan visi. Tujuan sekolah menggambarkan tingkatan mutu yang mau dicapai dalam jangka waktu menengah. Strategi merupakan cara- cara yang dicoba sekolah buat menggapai tujuan cocok dengan standar yang sudah diresmikan.

Visi, misi, tujuan serta strategi sekolah butuh dijadikan acuan oleh segenap masyarakat sekolah supaya jadi energi dorong buat melaksanakan tiap aktivitas dalam rangka menggapai tujuan sekolah.

Membangun serta Memelihara Raga Sekolah

Kultur sekolah mencerminkan budaya serta sikap serta moral sekolah selaku suatu lembaga. Ada 3 komponen yang bisa menggambarkan ciri tersebut( Zamroni, 2009):

Artifak serta Simbol- simbol, gimana bangunan sekolah dihias, didekorasi serta serta dirawat, Nilai- nilai( values), gimana masyarakat sekolah berperilaku serta berperan dikala melaksanakan pekerjaan, berhubungan serta berbicara.

Asumsi- asumsi, merupakan kepercayaan tercantum agama yang secara tidak disadari serta natural dipunyai oleh tiap masyarakat sekolah.

Sekolah seyogyanya mengusahakan supaya komponen- komponen tersebut tidak jadi kontraproduktif sebab: Memakai artifak serta symbol yang telah rusak serta usang sehingga tidak membagikan nuansa positif serta kepedulian pada proses pendidikan serta pembelajaran buat siswa. Tidak ataupun kurang mempraktikkan nilai- nilai dalam tiap aktivitas sekolah, minimnya membangun tanggung jawab serta toleransi dalam tiap aktivitas sekolah. Mempunyai anggapan, komentar ataupun kepercayaan yang berakibat negatif semacam:

Pemikiran yang membagikan label kalau banyak siswa yang bodoh, tidak belajar, malas.

Komentar yang melaporkan kalau orang tua siswa tidak hirau dengan pembelajaran putra- putrinya.

Anggapan yang melaporkan kalau orang tua siswa saat ini tidak hirau tentang pembelajaran.

Kultur sekolah tidak cuma bisa direfleksikan oleh bangunan raga semata tetapi pula oleh aspek psikologis yang bisa mengkondisikannya selaku tempat belajar siswa serta mengajar guru.

Pelaksanaan Nilai- nilai serta Agama

Selaku suatu organisasi, sekolah merupakan lembaga budaya yang tidak cuma membagikan pengajaran tetapi sangat berarti buat membagikan pembelajaran kepada segenap warganya. Para guru yang professional melaksanakan tugasnya buat mengajar, mendidik, membimbing, melatih, menggerakan apalagi memusatkan para siswa supaya nanti jadi manusia yang cendikia, mandiri serta berbudi pekerti luhur. Diharapkan siswa nanti hendak jadi generasi yang hendak turut dan membangun serta serta mengetuai bangsa. Sekolah suatu organisasi dengan demikian butuh membangun kultur sekolah yang baik, sehat, serta positif.

Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat serta positif butuh didasari oleh pengakuan kalau manusia merupakan mahluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga seluruh apa yang dicoba senantiasa diniatkan buat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa cocok dengan agama yang dianutnya. Kepercayaan serta nilai- nilai agama hendak membagikan arahan buat bekerja serta melaksanakan perbuatan yang diridhoiNya. Perihal ini hendak membagikan akibat positif kepada masyarakat sekolah supaya seluruh perbuatannya bisa dipertanggungjawabkan tidak cuma kepada manusia semata tetapi memperoleh nilai lebih di mata Tuhan Yang Maha Esa. Mengajar ialah upaya yang dicoba oleh guru buat membantu siswa belajar. Dalam proses pendidikan, siswalah yang jadi subyek, dialah pelakon aktivitas belajar. Supaya siswa berfungsi selaku pelakon aktivitas belajar, hingga guru sebaiknya merancang pendidikan yang menuntut siswa banyak melaksanakan kegiatan belajar sendiri ataupun mandiri. Perihal ini bukan berarti membebani siswa dengan banyak tugas, kegiatan ataupun paksaan- paksaan. Namun siswa belajar mandiri dengan materi- materi yang sudah diberikan supaya siswa lebih berminat dalam belajar serta tumbuh pikiranya dengan tujuan ilmu yang didapat secara mandiri berguna untuk masa depanya. Dalam pelaksanaanya kegiatan pendidikan yang mengaktifkan siswa bukan berarti guru tidak begitu banyak melaksanakan kegiatan, namun guru senantiasa member petunjuk tentang apa yang harus dicoba siswa, memusatkan, memahami, serta mengadakan penilaian ( Ibrahim& Nana, 2003: 27). Dengan demikian dalam sesuatu proses pendidikan siswa yang wajib aktif, guna guru cuma sebatas menolong, sehingga proses kemandirian belajar bisa tercapai. Kegiatan ialah prinsip ataupun asas yang sangat berarti dalam  interaksi pendidikan karena pada prinsipnya belajar merupakan berbuat buat mengubah tingkah laku. Tidak terdapat belajar jika tidak terdapat kegiatan. Dalam aktivitas belajar, subyek didik ataupun siswa wajib aktif berbuat. Dengan kata lain, kalau dalam belajar sangat dibutuhkan terdapatnya kegiatan( Sardiman, 2003: 95). Dalam proses kemandirian belajar siswa dibutuhkan kegiatan, siswa bukan cuma jadi obyek tapi subyek didik serta wajib aktif supaya proses kemandirian bisa tercapai. Hamalik( 2005: 175) pula menarangkan nilai kegiatan dalam pendidikan, ialah:

Para siswa mencari pengalaman sendiri serta langsung mengalami sendiri.

Beraktifitas sendiri hendak meningkatkan segala aspek individu siswa secara integral.

Memupuk kerjasama yang harmonis di golongan siswa.

Para siswa bekerja bagi atensi serta keahlian sendiri.

Memupuk disiplin kelas secara normal serta atmosfer belajar menjadi demokratis.

Mempererat ikatan sekolah serta warga, serta ikatan orang tua dengan guru.

Pendidikan dilaksanankan secara konkret sehingga mengembangkan uraian berfikir kritis dan menjauhi verbalitas.

Pendidikan di sekolah jadi hidup sebagaimana kegiatan dalam kehidupan di warga.

Kegiatan pendidikan kemandirian supaya bisa sukses membutuhkan keaktifan siswa dalam beraktifitas baik secara personal ataupun secara kelompok. Tidak hanya itu pula diperlukan ketertiban, uraian berfikir kritis, atensi serta kemampuan sendiri. Dalam beraktifitas pendidikan pula membutuhkan ikatan erat antara sekolah dengan warga, orang tua dengan guru. Diedrich( dalam Sardiman, 2007: 101) Mengatakan jenis- jenis aktivitas dalam belajar, yang bisa digolongkan selaku berikut:

Visual activities, yang tercantum di dalamnya memperhatiakan foto, melaksanakan percobaan, menjawab pekerjaan orang lain.

Oral activities, semacam: melaporkan, merumuskan, bertanya, memberi anjuran, menghasilkan komentar, mengadakan wawancara, dialog, interupsi.

Listening activities, selaku contoh: mencermati: penjelasan, obrolan, dialog, musik, pidato.

Writing activities, semacam misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.

Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat peta, diagaram, grafik.

Motor activities, yang tercantum didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat kontruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.

Mental activities, selaku contoh misalnya: menjawab, mengingat, membongkar soal, menganalisis, membuat ikatan, mengambil keputusan.

Emotional activities, semacam misalnya, menyimpan atensi, merasa bosan, gembira, bergairah, bergairah, berani, tenang, gugup.

Tipe kegiatan belajar sangat menunjang dalam perihal keterlaksanaan sesuatu proses pendidikan mandiri. Pendidikan kemandirian memerlukan sesuatu kektifan siswa semacam mengerjakan tugas, menjawab pekerjaan sahabat, mendengarkan uraian, melaksanakan  percobaan. Aktivitas adalah suatu proses kegiatan yang diikuti dengan terjadinya perubahan tingkah laku, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Menurut Rohani (2004) Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik ialah siswa giat, aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah, jika ada jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. 

Pendidikan akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagaimana perkembangan anak-anak didiknya. Pernyataan Montessori memberikan petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas dalam penbentukan diri adalah anak itu sendiri, sedangkan pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh anak didik.

Sekolah, adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak aktivitas yang dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya  mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat disekolah-sekolah. Hampir setiap orang menyukai situasi yang menyediakan pekerjaan. Hal ini dapat kita lihat misalnya anak kecil biasanya suka berlari, meloncat, berteriak, bermain, berpartisipasi, menari, mengembangkan hobi, membuat rencana. Ini berarti bahwa guru harus melihat dan memperhatikan siswa mana yang aktif dan kreatif sehingga perlu diberi kesempatan untuk aktif. Guru membantu siswa yang mendapat kesulitan atau suatu masalah. Ia memberikan petunjuk dan demonstrasi, melaksanakan karya wisata, survei, wawancara dengan warga masyarakat dan sebagainya (Hamalik, 2002).

 

Sabtu, 24 April 2021

Manajemen Kelas

 Manajemen Kelas

Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari kata bahasa inggris yaitu management. Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dalam kelas tersebut, guru berperan sebagi manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas. Sedangkan kelas dalam perspektif pendidikan  dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama, serta bersumber dari guru yang sama. Manajemen kelas juga merupakan usaha sadar untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, serta melaksanakan pengawasan atau supervisi terhadap program dan kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien. Berbagai jenis kelas yang dapat diamati oleh guru adalah kelas yang gaduh namun negatif, kelas yang gaduh namun positif, kelas yang tenang dan disiplin, dan kelas yang alamiah. 

Arikunto menjelaskan pengertian kelas sebagai sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Dan yang dimaksud dengan kelas, bukan hanya kelas yang merupakan ruangan yang dibatasi dinding tempat para siswa berkumpul bersama untuk mempelajari segala yang disajikan oleh pengajar, tetapi lebih dari itu kelas merupakan suatu unit kecil siswa yang berinteraksi dengan guru dalam proses pembelajaran dengan beragam keunikan yang dimiliki. Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik, dan pandangan dari segi siswa. Disamping itu, Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut, yaitu:

Kelas dalam arti sempit : ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.

Kelas dalam arti luas : suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Secara sederhana, kelas dapat diartikan sebagai unit kerja terkecil di sekolah yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan pembelajaran. Pembagian kelas sebagai sebuah unit biasanya ditentukan oleh jenjang usia peserta didik.4



Fungsi-fungsi Manajemen dalam Kelas

1) Fungsi Perencanaan Kelas

Perencanakan adalah proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mencapainya sehingga harus membuat suatu target yang ingin dicapai atau diaraih di masa depan. 

2) Fungsi Pengorganisasian Kelas

Dalam manajemen atau pengelolaan kelas, ada pengorganisasian yang meliputi: Organisasi intra dan ekstra kelas, organisasi kegiatan belajar-mengajar, organisasi personil siswa dan organisasi fasilitas fisik kelas.

3) Fungsi Kepemimpinan Kelas

Kepemimpinan efektif di ruang kelas merupakan bagian dari tanggung jawab guru di dalam kelas. Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan pemimpin. 

4) Fungsi Pengendalian Kelas

Pengendalian merupakan proses untuk memastikan bahwa aktivitas yang sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen, yaitu menetapkan standar penampilan kelas, menyediakan alat ukur standar penampilaan kelas, membandingkan unjuk kerja dengan standar yang telah ditetapkan di kelas, serta mengambil tindakan korektif saat terdeteksi penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan tujuan kelas.

Tujuan manajemen kelas

Sebagai pengelolaan kelas guru atau wali kelas dituntuk mengelolan kelas sebagai lingkungan belajar siswa. Juga sebagai bagian dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasikan. Karena tugas guru yang utama adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi pembelajaran dengan baik dan sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, guru dan wali kelas dituntut memiliki kemampuan yang inovatif dalam mengelola kelas.

Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat tercipta kondisi kelompok belajar yang proporsional terdiri dari lingkungan kelas yang baik yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, serta tersedia kesempatan yang memungkinkan untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan dengan guru, sehingga siswa mampu melakukan self activity dan self control secara bertahap, tetapi pasti menuju taraf yang lebih dewasa.

Secara umum yang menjadi tujuan pengelolaan kelas dalam pandangan sudirman adalah penyedian fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap apresias para siswa.

Secara khusus yang menjadi tujuan pengelolaan kelas dalam pandangan Usman adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa belajar dan bekerja, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Implementasi Manajemen Kelas

Peningkatan mutu pendidikan sekolah perlu di dukung dengan kemampuan mengelola dan manajemen kelas. Sekolah ataupun kelas harus ada perkembangan. Oleh karena itu, perlu adanya hubungan baik guru dengan murid agar tercipta suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Selain itu, kelas harus diatur agar menjadi lingkungan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreativitas, kedisiplinan, dan semangat belajar siswa. Dengan alasan inilah perlu adanya implementasi manajemen kelas.

Untuk mengimplementasikan manajemen kelas secara efektif dan efisien, guru harus memiliki pengetahuan dan pandangan luas tentang mengelola kelas. Selain itu, guru di tuntut untuk melakukan fungsinya sebagai guru dalam meningkatkan proses pembelajaran, dengan manajemen kelas, membina, dan memberikan saran positif kepada siswa. Selain itu, guru juga harus melakukan tukar fikiran kepada siswanya. Seorang guru harus mengimplementasikan manajemen kelas dengan baik. Sebelum pembelajaran dimulai, guru harus mempersiapkan semua yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Tahap-tahap pengelolaan dan pelaksanaan proses pembelajaran adalah:

a. Perencanaan

b. Pengorganisasian

c. Pengarahan

d. Pengawasan

4. Pendekatan Manajemen Kelas

Dalam rangka menciptakan suasana yang kondusif dalam proses pembelajaran, seorang guru harus memahami dan dapat memilih pendekatan yang tepat dalam mengelola kelas, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Berkaitan dengan itu, ada beberapa pendekatan pengelolaan kelas, yaitu:

a. Pendekatan Perubahan Perilaku (Behavior Modification Approach)

Dalam pendekatan perilaku ini dapat dikemukakan bahwa mengabaikan perilaku siswa yang tidak diinginkan dan menunjukan persetujuan atas perilaku yang diinginkan adalah amat efektif dalam menumbuhkan perilaku yang baik bagi para siswa di kelas, sedangkan menunjukkan persetujuan atas perilaku siswa yang baik merupakan kunci pengelolaan kelas yang efektif.

b. Pendekatan Iklim Sosioemosional (Socio Emotional Climate Apparoach)

Menurut Rogers Wiliam Glasser Rogers bahwa pengajar perlu bersifat tulus terhadap siswanya, menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, serta memahami siswa dari sudut siswa itu sendiri, sedangkan Glasser lebih menekankan pada pentingnya pengajar membina rasa tanggung jawab dan harga diri siswa. Adapun Rudolf Dreikurs menekankan pentingnya proses suasana dalam kelas yang demokratis.

c. Pendekatan Proses Kelompok (Group Processes Approach)

Menurut R.A. Schmuck dan P.A Schmuck bahwa terdapat enam unsure yang berkaitan dengan pengelolaan kelas. Unsur-unsur yang dimaksud adalah harapan, kepemimpinan, kemenarikan, norma, komunikasi, dan keeratan hubungan. Johnson dan Bany mengemukakan dua jenis pengelolaan kelas yang penting adalah kemudahan dan pemeliharaan. Dari pendekatan tersebut, perlu difahami dan dikuasai oleh guru dalam rangka mengadakan pengelolaan kelas secara baik. Pendekatan tersebut dalam realisasinya perlu digabungkan dalam pelaksanaannya dengan mempertimbangkan kondisi kelas, karakteristik siswa, materi pembelajaran yang akan diajarkan.

Pendekatan dalam Manajemen Kelas

Terdapat beberapa pendekatan dalam manajemen kelas yaitu:

Pendekatan Kekuasaan

Pendekatan kekuasaan dalam manajemen kelas dapat dipahami sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik di dalam kelas. Peran guru disini adalah untuk menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.

Pendekatan Ancaman

Pendekatan ancaman dalam manajemen kelas merupakan salah satu pendekatan untuk mengontrol perilaku peserta didik di dalam kelas. Pendekatan ancaman di dalam kelas dapat di implementasikan melalui papan larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan kepada peserta didik yang membantah, silabus.web.id yang semuanya ditujukan agar peserta didik mengikuti apa yang diinstruksikan oleh guru. Namun, ancaman disini tidak sepatutnya dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan.

Pendekatan Kebebasan\

Pendekatan kebebasan dalam manajemen kelas dipahami sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan untuk mengajarkan sesuatu sesuai dengan apa yang ia pahami dan ia inginkan, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat.

Pendekatan Resep

Pendekatan resep sangat cocok dilakukan oleh guru sendiri. Dalam hal ini, kita perlu mencatat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mengajar dikelas. Oleh sebab itu cobalah ingat kembali apa yang tidak disukai pada saat mengajar, sehingga ketidaksukaan itu dapat menyebabkan situasi kelas yang tidak efektif.

Pendekatan Pengajaran

Pendekatan pengajaran dalam manajemen kelas didasarkan atas suatu anggapan bahwa pengajaran yang baik akan mampu mencegah munculnya masalah yang disebabkan oleh peserta didik di dalam kelas. Oleh karena itu, buatlah perencanaan pengajaran yang matang sebelum kita masuk kelas dan patuhilah tahapan-tahapan yang sudah kita buat sebelumnya.

Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

Pendekatan perubahan tingkah laku dalam manajemen kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik di dalam kelas.

Pendekatan Sosio-Emosional

Sebuah kelas dapat dikelola secara efisien selama guru mampu membina hubungan yang baik dengan siswa-siswanya. Pendekatan yang berdasarkan kepada terjalinnya hubungan yang baik antara guru dan siswa ini disebut dengan pendekatan sosio-emosional.

Pendekatan Kerja Kelompok

Pendekatan kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampuan guru dalam menciptakan momentum yang mendorong kelompok-kelompok di dalaam kelas menjadi kelompok yang produktif.

Pendekatan Elektis atau Pluralistik

Pendekatan elektis dalam manajemen kelas menekankan pada potensi, kreatifitas, dan inisiatif dari wali atau guru kelas untuk memilih berbagai pendekatan yang tepat dalam berbagai situasi yang dihadapi.


Referensi

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/6463/5/BAB%20II.pdf

Sabtu, 17 April 2021

Manajemen Sekolah

Manajemen Sekolah

Pengertian Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah adalah suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal. Manajemen sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru serta masyarakat setempat, untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memiliki sifat profesional. Pemahaman terhadap sifat profesional tersebut sangat penting agar peningkatan efisiensi, mutu dan pemerataan serta supervisi dan monitoring yang direncanakan disekolah betul-betul untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan kerangka kebijakan pemerintah dan tujuan sekolah. Manajemen sekolah sebagai proses pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Dengan manajemen sekolah diharapkan kepala sekolah, guru dan personil lain disekolah serta masyarakat setempat dapat melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, perkembangan zaman, karakteristik lingkungan dan tuntutan global. Untuk keberhasilan tugas kepala sekolah sebagai pemimpin, administrator dan supervisor, haruslah mampu menerapkan sifat-sifat kepemimpinan terhadap stafnya, sebagaimana firman Allah SWT:

“Maka karena rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohon ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal”. (QS. Ali Imran:159).

Efektivitas, efisiensi dan produktivitas manajemen sekolah harus sejak awal ditetapkan agar dapat diketahui dampaknya sejak dini terhadap pencapaian tujuan pendidikan pada umumnya, khususnya dalam merealisasikan berbagai program sekolah.  Efektivitas manajemen sekolah berarti bagaimana manajemen sekolah berhasil melaksanakan semua tugas pokok sekolah, menjalin partisipasi aktif masyarakat, mendapatkan serta memanfaatkan sumber daya, sumber dana dan sumber belajar untuk mewujudkan tujuan sekolah. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT bahwa orang yang berilmu dan tidak berilmu itu berbeda dalam pandangan Islam : (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9)

Efektivitas dapat dijadikan barometer untuk mengukur keberhasilan pendidikan. Dalam upaya pengukuran ini terdapat dua istilah yang perlu diperhatikan, yaitu validasi dan evaluasi. Berkaitan dengan evaluasi, sebagai kata kedua yang penting dalam membicarakan efektivitas bahwa: evaluasi dapat digunakan  tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan.

Tujuan Manajemen Sekolah

Tujuan manajemen sekolah menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah :

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu sekolah.

Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

Manajemen sekolah bertujuan untuk memberdayakan sekolah, terutama sumberdaya manusianya, seperti kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya. Pemberdayaan sumberdaya manusia ini melalui pemberian kewenangan, fleksibilitas, dan pemberian tanggung jawab untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan.

Fungsi Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang memberikan tanggung jawab pengelolaan sumber daya dan pengembangan strategi manajemen sekolah sesuai dengan kondisi setempat, sekolah dapat lebih meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugas. Manajemen sekolah menekankan keterlibatan maksimal berbagai pihak, seperti pada sekolah-sekolah swasta, sehingga menjamin partisipasi staf, orang tua, peserta didik, dan masyarakat yang lebih luas dalam perumusan-perumusan keputusan tentang pendidikan.


Prinsip-Prinsip Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah untuk mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber daya manusia.

Prinsip Ekuifinalitas (Principle of Equifinality)

Prinsip ini didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan.

Prinsip Desentralisasi (Principle of Decentralization)

Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen

sekolah modern. 

Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Principle of Self-Managing System)

Prinsip ini terkait dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. 

Prinsip Inisiatif Manusia (Principle of Human Initiative)

Berdasarkan perspektif ini maka manajemen sekolah bertujuan untuk

membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya.


Menurut Husaini Usman, Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan manajemen sekolah antara lain sebagai berikut:

Komitmen, kepala sekolah dan warga sekolah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menggerakkan semua warga sekolah untuk ber manajemen sekolah.

Kesiapan, semua warga sekolah harus siap fisik dan mental untuk ber manajemen sekolah.

Keterlibatan, pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.

Kelembagaan, sekolah sebagai lembaga adalah unit terpenting bagi pendidikan yang efektif.

Keputusan, segala keputusan sekolah dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.

Kesadaran, guru-guru harus memiliki kesadaran untuk membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan kurikulum.

Kemandirian, sekolah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana.

Ketahanan, perubahan akan bertahan lebih lama apabila melibatkan stakeholders sekolah.

Karakteristik Manajemen Sekolah

Karakteristik sekolah yang melaksanakan manajemen sekolah di antaranya :

1) Proses pembelajaran yang efektivitasnya tinggi

2) Kepemimpinan sekolah kuat

3) Lingkungan sekolah aman dan tertib

4) Pengelolaan tenaga kependidikan efektif

5) Memiliki budaya mutu

6) Memiliki tim kerja yang kompak, cerdas, dan dinamis

7) Memiliki kewenangan (kemandirian)

8) Partisipasi tinggi dari warga sekolah dan masyarakat

9) Memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen

10) Memiliki kemauan untuk berubah

11) Melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan

12) Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan

13) Memiliki komunikasi yang baik

14) Memiliki akuntabilitas

15) Memiliki kemampuan menjaga keberlanjutan

Perencanaan Peningkatan Kinerja Sekolah 

Pelibatan Komunitas Sekolah Dalam Perencanaan

Perencanaan harus memenuhi pandangan global, bukan kesinambungan yang sempit, pandangan yang memusatkan pada sebagian kecil orang. Satu sistem pendekatan dapat berarti kemampuan menunjukkan arti identifikasi, dokumentasi, menyeleksi masalah, menentukan cara pemecahan dari pilihan-pilihan yang mungkin, dan

melakukan evaluasi. Dalam perencanaan harus jelas serial kegiatan, seperti identifikasi, pembatasan, seleksi, dan prioritas kebutuhan atau disebut dengan analisis kebutuhan.

Tahap Perencanaan Peningkatan Kinerja Sekolah

Perencanaan sekolah merupakan penggambaran masa depan dari sosok

institusi sekolah yang dikehendaki oleh warganya.

Langkah Kerja Peningkatan Mutu Sekolah

Me-review arah strategis kebijakan pendidikan dan agenda perbaikan pendidikan pada umumnya.

Menelaah dan meyempurnakan kembali statement tentang visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah.

Melakukan evaluasi diri (self-assessment) dan analisis SWOT untuk menentukan posisi sekolah.

Mengidentifikasi kebutuhan dan/atau peluang peningkatan.

Perumusan strategi dan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Melakukan kegiatan monitor dan evaluasi untuk mengukur perkembangan secara periodik dari implementasi program.

Melakukan analisis data, mengumumkan, dan menyampaikan laporan kemajuan itu kepada masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Pengorganisasian dalam Kerangka Manajemen Sekolah

Makna Organisasi Sekolah Dalam Kerangka Fungsi Manajemen Sekolah

Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin, organum, yang berarti alat, bagian, unsur, unit, anggota, atau badan. 

Tiga Pendekatan Organisasi

Organisasi sekolah dapat didekati dari tiga pendekatan. Pertama adalah

pendekatan struktural, Kedua adalah pendekatan fungsional, Ketiga adalah pendekatan struktural-fungsional.

Disekonomi, Feminisasi Organisasi, dan Budaya Sekolah 

Gejala atau kenyataan disekonomi ini disebabkan oleh:

1) Kebosanan,

2) Kelelahan,

3) Monotoni,

4) Stres,

5) Etos untuk meningkatkan produktivitas rendah,

6) Semangat untuk meningkatkan kualitas layanan buruk,

7) Tingkat pembolosan meningkat,

8) Ketidakpedulian tinggi,

9) Lupa diri,

10) Berulah buruk, serta,

11) Kemungkinan “loncat pagar”, dan lain-lain.

Karakteristik organisasi feminin di institusi persekolahan adalah sebagai berikut.

Anggota komunitas sekolah dihargai sebagai manusia individual

Komunitas sekolah tampil secara niroportunistis, hubungan yang bernilai, bukan sekedar hubungan instrumental.

Karier kepala sekolah dan guru didefinisikan sebagai bentuk layanan kepada orang lain. Kalau sejawat terpilih atau mengalami promosi, tidak lebih daripada sebuah konsekuensi logis karena prestasinya, bukan sekedar nasib baik.

Komitmen pada pertumbuhan intitusi dan komunitas.

Penciptaan komunitas sekolah yang peduli terhadap kepentingan pendidikan dan pembelajaran.

Berbagi kekuasaan sesuai dengan kewenangan, keahlian, dan keterampilan

Budaya organisasi mengandung makna sebuah sistem nilai yang secara taat asas dianut oleh komunitas sebuah organisasi tertentu yang membedakannya dengan organisasi-organisasi lain.

Reorientasi Kultur Manajemen Sekolah

Munculnya sebuah tatanan perilaku ideal dari komunitas sekolah merupakan interaksi sinergis dari perilaku yang ditampilkan oleh bagian-bagiannya. Ibaratnya, kekuatan sebuah tim kesebelasan sepak bola tidak identik dengan kumpulan kekuatan sebelas orang pemain yang di dalamnya saling menafikan, misalnya, sama-sama bersikeras ingin mencetak gol terbanyak.

Partisipasi dalam Penerapan Manajemen Sekolah

Partisipasi dan keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan memungkinkan lahirnya kebijakan dan keputusan yang baik. Karena itu perlu komunikasi intensif dan terbuka antara pihak-pihak berkepentingan seperti komite sekolah, Dinas Pendidikan setempat, orang tua peserta didik, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru-guru, tenaga kependidikan, karyawan sekolah, anak didik, dan pihak lain yang berkepentingan.

Tidak ada pihak berkepentingan (stakeholders) yang dianggap superior. Semua stakeholders walau mereka Dewan Pendidikan, guru baru, atau orang tua, membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik membantu memenuhi keperluan mereka sendiri. Penerapan Manajemen Sekolah di Indonesia sejalan dengan kebijakan desentralisasi manajemen pemerintahan. Kebijakan desentralisasi ini merupakan suatu gerakan manajerial umum, baik di bidang bisnis, pemerintahan, maupun

pengelolaan pendidikan. Menyertai kebijakan Manajemen Sekolah, pelatihan keterampilan administratif bagi pihak-pihak yang berkepentingan adalah penting dalam mengimplementasikan manajemen sekolah.


Sumber

http://repository.radenintan.ac.id/144/5/Bab_II.pdf

Sabtu, 10 April 2021

KULTUR SEKOLAH


Salah satu persoalan penting dan genting dunia pendidikan kita adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Masyarakat kini semakin sadar bahwa pendidikan adalah salah satu jembatan untuk meraih kehidupan masa depan yang lebih baik, pendidikan yang bermutu menjadi kebutuhan, tuntutan dan harapan seluruh lapisan masyarakat. Berbagai usaha meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh pemerintah, seperti pendidikan dan pelatihan guru, pengadaan sarana dan prasarana. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah.

Kultur sekolah adalah norma-norma, nilai-nilai, keyakinan, sikap, harapan-harapan, dan tradisi yang ada di sekolah dan diwariskan antar generasi atau kultur sekolah juga bisa disebut dengan kebudayaan sekolah. Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat. Nilai- nilai adalah seperangkat aturan yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, atau lingkungan masyarakat, yang telah mengakar pada kebiasaan, dan simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang bisa dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Nilai-nilai akan terlihat pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang tampak sebagai acuan suatu lingkungan sosial atau organisasi sosial. Sikap adalah segala perbuatan dan tindakan. Sekolah merupakan salah satu proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Tiap-tiap sekolah mempunyai kebudayaannya sendiri yang bersifat unik. Tiap-tiap sekolah memiliki aturan tata tertib, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, mars/hymne sekolah, pakaian seragam dan lambang-lambang yang lain yang memberikan corak khas kepada sekolah yang bersangkutan.

Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, yaitu lingkungan sekolah, kurikulum sekolah, pribadi-pribadi warga sekolah (siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi), nilai-nilai moral, sistem peraturan. Ada beberapa aspek kultur sekolah yaitu:

Aspek kultur sosial (interaksi warga) meliputi budaya memaafkan, menolong, memberi penghargaan, menegur, mengunjungi, memberi selamat, saling menghormati, dan mengucapkan salam.

Aspek budaya akademik meliputi budaya literasi, bimbingan belajar, kebiasaan bertanya atau keberanian mengemukakan pendapat, dll.

Aspek budaya mutu meliputi budaya jujur, saling percaya, kerjasama, kegemaran membaca, disiplin, bersih, berprestasi.

Aspek artifak meliputi artifak fisik seperti arsitektur bangunan, gambar dan artifak perilaku warga sekolah.

Kultur sekolah mempunyai fungsi antara lain:

Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri).

Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.

Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan kerjasama dengan orang tua siswa, komite sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya. Kultur sekolah yang positif dapat memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras, dan tidak mudah mengeluh.

Contoh Kultur Positif di sekolah:

Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi tinggi

Memegang teguh bahwa prestasi dan proses mencapainya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan

Menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma sosial, etika dan moral

Menghargai prestasi siswa

Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi

Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, sejuk, dan aman

Contoh Kultur Negatif di sekolah:

Siswa memiliki keyakinan belajar asal-asalan apa adanya pasti naik kelas dan lulus.

Siswa ingin meraih prestasi yang setinggi-tingginya dengan segala cara untuk mencapainya, sekalipun melanggar norma dan nilai (misalnya : Nyontek, bekerja sama dalam ulangan, plagiat dalam membuat tugas, dsb.).

Siswa tidak antusias menerima tugas karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak.

Siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR karena mereka yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan naik kelas dan lulus mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.

Siswa malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik, tidak antusias dalam mengajar, dan tidak menguasai materi.

Hasil karya siswa dan prestasi sekolah tidak dipajang sebagaimana mestinya yaitu sebagai suatu kebanggaan yang dapat memberikan motivasi untuk yang lainnya.

Guru sering melecehkan siswa dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu, sebagai balasannya siswa tidak menghargai guru.

Sekolah tidak disiplin dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan menyalahkan siswa atas prestasinya.

Kebijakan kepala sekolah bersifat pilih kasih.

Menghindari kolaborasi dan selalu ada pertentangan.

Mereka yang inovatif malah di kritik dan tidak disenangi.

Diantara warga sekolah tidak ada saling percaya dan selalu mencari kesalahan orang lain.

Banyak siswa dan guru yang terlambat datang ke sekolah.

Lingkungan sekolah yang kotor, membuang sampah tidak pada tempatnya.

Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat anarkis, negatif, beracun. Membangun dan melakukan perubahan kultur sekolah tidak bisa melalui ceramah, ataupun slogan. Perlu adanya membuat kesepakatan berupa regulasi (peraturan, tata tertib, dsb.) yang mengikat siswa, guru, dan seluruh warga sekolah lainnya, adanya program-program pembiasaan yang lambat laun akan menjadi budaya atau karakter, sedangkan pendekatan kultural melalui interaksi dengan menanamkan nilai-nilai, sikap dan prilaku yang diintegrasikan pada setiap mata pelajaran atau melalui kegiatan ekstra kurikuler, dan yang terpenting dengan cara pembudayaan dengan keteladanan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah.“Setiap sekolah mempunyai kultur, tapi sekolah yang sukses hanyalah sekolah yang memiliki kultur positif yang sejalan dengan visi dan misi pendidikan yang menjadi harapan dan cita-cita dari seluruh warga sekolah.

 Sekolah juga perlu melakukan evaluasi diri agar untuk menjadi dasar perencanaan untuk membangun kultur yang tepat sesuai dengan kondisi nyata. Sebagai lembaga pendidikan sekolah perlu merumuskan visi, misi,  tujuan  dan strategi. visi  adalah  cita-cita bersama warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang yang mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan untuk mencapainya. Misi sekolah adalah segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Tujuan sekolah menggambarkan tingkat kualitas yang ingin dicapai dalam jangka waktu menengah. Strategi adalah cara-cara yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Visi, misi, tujuan dan strategi sekolah perlu dijadikan acuan oleh segenap warga sekolah agar menjadi daya dorong untuk melakukan setiap kegiatan dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Kultur sekolah mencerminkan budaya dan perilaku dan moral sekolah sebagai sebuah lembaga. Kultur sekolah memiliki tiga bagian yaitu:

Artifak dan Simbol-simbol, bagaimana bangunan sekolah dihias, didekorasi dan dan dirawat,

Nilai-nilai (values), bagaimana warga sekolah berperilaku dan bertindak saat melakukan pekerjaan, berinteraksi dan berkomunikasi.

Asumsi-asumsi, adalah keyakinan termasuk agama yang secara tidak disadari dan alami dimiliki oleh setiap warga sekolah.

Arah Pengembangan Kultur Sekolah:

Standar moral yang tinggi

Tanggung jawab (kerja keras dan disiplin)

Jujur

Kebersamaan dan persaudaraan

Sopan santun

Bersih dan rapi

Cinta tanah air

Positive Thinking

Optimis, keyakinan akan berhasil

Selalu mau mencoba, tidak pernah menyerah

Berpegang pada tujuan

Pengembangan kultur sekolah dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu melalui proses pembiasaan dan meningkatkan pembiasaan tersebut menjadi sebuah sistem.

Pembiasaan

Contoh cara-cara  yang bisa dilakukan sekolah dalam membentuk pembiasan adalah :

Sekolah menciptakan induk tata tertib

Induk tata tertib adalah sebuah pola pengaturan terpadu yang mengkorelasikan segala macam tata tertib yang mengatur tugas perbagian di sekolah.

Pembudayaan sopan santun

Membangun kesadaran siswa, dll.

Mengubah Pembiasaan Menjadi Sistem

Untuk bisa melestarikan pembiasaan dan mengubahnya menjadi sistem ada beberapa contoh cara yang bisa ditempuh:

Mengaplikasikan jiwa keteladanan

Jiwa keteladanan yang harus teramati adalah adalah dari orang-orang penting di sekolah seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru senior. Tanpa kecuali tokoh-tokoh tersebut harus berperan aktif bagi terciptanya sistem bertingkah laku terpuji di sekolah.

Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini, dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Perubahan kearah kultur  yang positif harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Kultur sekolah akan baik apabila:

kepala sekolah dapat berperan sebagai pemimpin,

mampu membangun kerjasama tim, 

belajar dari guru, staf, dan siswa, dan,

harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah. Hubungan kepala sekolah dengan warga sekolah harmonis dan kekeluargaan. Dalam menjalin hubungan dengan diadakan pertemuan rutin, merupakan salah satu usaha sekolah memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Kepala sekolah membagi tugas dengan guru, bekerjasama untuk tujuan yang sama.

Strategi kepala sekolah memberdayakan warga sekolah, dimulai dari kegiatan praKBM hingga KBM usai dibiasakan salaman pagi, diharapkan menghormati guru dan orang tua di rumah, masyarakat, menghormati orang lain dan menekankan kedisiplinan serta membangun sekolah Islami. Kepala sekolah juga memberikan bimbingan ekstrakurikuler, keagamaan, mengedepankan pendidikan karakter sesuai dengan visi dan misi sekolah. Dengan melakukan pemantauan dan memberikan nasehat kepada warga sekolah dalam mewujudkan kultur sekolah. Perubahan positif di sekolah akan terjadi jika seluruh subjek sekolah memahami sifat budaya sekolahnya sendiri dengan baik, baik yang tampak maupun tidak tampak. Sebagai sebuah organisasi, sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya memberikan pengajaran namun sangat penting untuk memberikan pendidikan kepada segenap warganya.  Para guru yang professional melakukan tugasnya untuk mengajar, mendidik, membimbing, melatih, menggerakan  bahkan mengarahkan para siswa agar kelak menjadi manusia yang cendikia, mandiri dan berbudi pekerti luhur.




http://staffnew.uny.ac.id/upload/132206551/penelitian/Artikel+Dinamika+Pendidikan+2007.pdf

file:///C:/Users/ACER/Downloads/342-Article%20Text-660-1-10-20200202.pdf

http://eprints.ums.ac.id/43114/4/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf